Untuk Orang Tua Untuk Guru Mitra
pfy-burger-btn Menu

Hai, Pahamifren, pada Materi Sosiologi Kelas 10 kali ini, Mipi mau mengajak kamu untuk membahas mengenai pengertian internalisasi nilai, norma dan pembentukan kepribadian. Simak artikel ini sampai selesai, ya!

Pengertian Internalisasi

Sebelum membahas lebih jauh tentang internalisasi nilai norma dan pembentukan kepribadian, ada baiknya kita ulas dulu satu persatu, mulai dari pengertian internalisasi nilai. Internalisasi merupakan proses pembelajaran dan penanaman nilai-nilai, dan norma-norma dalam masyarakat yang dilakukan oleh individu, sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya. 

Proses pembelajaran dan penanaman dalam internalisasi ini berlangsung secara berkesinambungan, menjadi bagian dari kepribadian individu tersebut, yang kemudian ditelaah dan diterapkan, baik secara keseluruhan maupun hanya sebagian. 

Proses internalisasi ini penting dalam kehidupan sosial seseorang karena seluruh pembelajaran nilai-nilai dan norma-norma yang sudah didapatkannya akan menjadi pedoman baginya dalam bermasyarakat dan dalam menjaga keteraturan sosialnya.

Pengertian Internalisasi Menurut Para Ahli

Berikut adalah beberapa pengertian internalisasi menurut para ahli yang dapat membantu pemahaman kamu:

Materi sosiologi kelas 10 - Pengertian internalisasi nilai norma dan pembentukan kepribadian.
  • Chaplin mendefinisikan internalisasi sebagai penggabungan atau penyatuan sikap di dalam kepribadian seseorang.
  • Kartono menjelaskan bahwa internalisasi merupakan pengaturan tingkah laku atau sikap individu ke dalam pikiran maupun kepribadian seseorang, sehingga tingkah laku dan tindakan-tindakan yang dilakukannya dapat menjadi suatu penerapan bagi individu lain sebagai bagian dari diri sendiri. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa internalisasi ini dilakukan melalui praktik dengan kesadaran, tanpa adanya paksaan.
  • Puspita Sari mendefinisikan internalisasi sebagai penanaman perilaku, sikap, dan nilai dalam diri seseorang, yang didapatkannya melalui proses pembinaan, pembelajaran, dan bimbingan. Melalui internalisasi, seseorang diharapkan dapat menerapkan perilaku, sikap, dan nilai yang sudah ia pelajari tersebut, sesuai dengan keinginan dan harapan masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat mereka.
  • Sujatmiko menjelaskan bahwa internalisasi merupakan pembelajaran selama hidup di dunia, yang dilakukan oleh seseorang kepada masyarakat atau kelompok-kelompok sosial. Pembelajaran dalam internalisasi ini berupa penyerapan aturan, nilai, dan norma dalam masyarakat.

Pengertian Nilai

Nilai adalah sesuatu yang baik, yang diinginkan, dicita-citakan, serta dianggap penting oleh masyarakat. Nilai merupakan taksiran, sifat-sifat atau hal-hal penting yang dianggap penting dan berguna bagi kemanusiaan, yang dapat mendorong manusia dalam mencapai tujuannya. 

Dalam ilmu sosiologi, nilai dipahami sebagai ukuran yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat karena nilai dianggap sebagai tuntunan pola perilaku setiap individu dalam masyarakat. Nilai juga diyakini sebagai sesuatu yang dianggap benar dan baik, pembatas antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, serta yang pantas dan yang tidak pantas. 

Seiring bertambahnya usia seseorang, ia akan memiliki nilai-nilai sendiri yang diyakini dan dianut berdasarkan perasaannya sendiri, sehingga nilai tersebut bersifat subjektif. 

Nilai yang diyakini dan dianut seseorang serta bersifat subjektif ini dalam sosiologi disebut sebagai nilai individual. Sementara nilai-nilai yang dianut oleh banyak individu di dalam sebuah masyarakat dan didasarkan pada pandangan dan ukuran banyak orang, disebut sebagai nilai sosial.

Pada prinsipnya, nilai-nilai dalam masyarakat atau nilai sosial dipelajari oleh individu sejak lahir hingga akhir hayatnya. Oleh karena itu, pengertian dari internalisasi nilai adalah nilai-nilai yang dipelajari oleh individu melalui proses sosiologi melalui pengalaman hidup sehari-hari. Pengalaman hidup mengenai nilai ini ada yang terus tertanam dalam diri anggota masyarakat, tetapi juga ada yang bersifat sementara. 

Pengalaman internalisasi nilai dapat berubah seiring perkembangan kepribadian individu, Pahamifren. Saat individu mendapatkan pengalaman baru mengenai suatu nilai, yang dapat memberikan kepuasan yang lebih besar, individu tersebut akan menyusun asumsi bahwa apa yang benar dan penting merupakan sesuatu yang abstrak, dan ini sering terjadi secara tidak disadari. 

Pengalaman tersebut kemudian dapat ditularkan kepada individu lain atau kelompok sosial lain dalam masyarakat dengan intensitas yang beragam. Penularan nilai ini merupakan faktor penting dalam pembentukan pribadi seseorang dalam sebuah masyarakat.

Pengertian Nilai Sosial Menurut Para Ahli

Berikut adalah beberapa pengertian nilai sosial menurut para ahli yang dapat kamu jadikan acuan:

  • Green menilai nilai sosial sebagai kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap objek, ide, dan orang perorangan.
  • Kimball Young mendefinisikan nilai sosial sebagai asumsi abstrak dan sering tidak disadari mengenai apa yang dianggap benar dan yang dianggap penting.
  • Woods mendefinisikan nilai sosial sebagai petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan pada tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pengertian para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai sosial merupakan petunjuk secara sosial terhadap objek-objek, baik secara material maupun nonmaterial, yang sifatnya absrak. Apabila perasaan dan sikap masyarakat mengenai nilai sosial diikat dalam suatu sistem, sistem tersebut disebut sebagai sistem nilai sosial.

Fungsi Nilai dalam Interaksi Sosial

Dalam interaksi sosial, nilai memiliki fungsi sebagai berikut:

Dalam pengertian internalisasi nilai, cara berpikir dan bertingkah laku seseorang memiliki nilai tersendiri bagi orang lain.
  • Mengatur cara berpikir dan cara bertingkah laku seseorang secara ideal. Nilai ini terinternalisasikan dalam diri individu karena setiap anggota masyarakat selalu dapat melihat cara bertindak dan bertingkah laku yang terbaik dalam masyarakatnya dan dapat memengaruhi dirinya sendiri.
  • Mengembangkan seperangkat alat siap pakai untuk menetapkan harga sosial dari individu atau kelompok sosial. Fungsi nilai ini dimungkinkan melalui sistem stratifikasi yang ada pada masyarakat.
  • Sebagai alat pengawas dengan daya tahan dan daya mengikat tertentu. Nilai-nilai dapat membantu, menuntun, dan bahkan menekan individu untuk tidak berbuat hal yang tidak baik.
  • Sebagai alat solidaritas di kalangan kelompok sosial dan masyarakat.
  • Sebagai penentu terakhir bagi individu dalam memenuhi peranan-peranan sosialnya. Nilai-nilai menciptakan minat dan memberikan semangat pada individu dalam mencapai dan mewujudkan apa yang diminta dan diharapkan masyarakat demi terwujudnya apa yang dicita-citakan oleh masyarakat.

Pengertian Norma

Nah, setelah membahas pengertian nilai, Mipi akan membahas apa yang dimaksud dengan norma. Norma merupakan seperangkat aturan, baik tertulis atau tidak tertulis, yang dilengkapi dengan sanksi-sanksi bagi orang yang melanggarnya.

Norma memiliki peran sebagai pedoman sehari-hari yang berlaku dalam masyarakat. Dalam penerapannya, norma berlaku di banyak bidang kehidupan masyarakat, baik itu keagamaan, kesenian, budaya, adat istiadat, ataupun pendidikan. 

Pengertian Norma Menurut Para Ahli

Berikut adalah beberapa pendapat ahli mengenai norma:

  • Anthony Giddens berpendapat bahwa norma adalah sebuah prinsip maupun aturan yang jelas, nyata, atau konkret, yang harus diperhatikan oleh setiap masyarakat.
  • Bagja Waluyo berpendapat bahwa norma merupakan wujud atau bentuk nyata dari nilai yang merupakan acuan atau pedoman berisikan mengenai keharusan berperilaku bagi setiap manusia.
  • Craig Calhoun berpendapat bahwa norma merupakan pedoman dan aturan yang menyatakan mengenai bagaimana cara seorang individu bertindak layak dalam situasi tertentu.
  • Isworo Hadi Wiyono berpendapat bahwa menyatakan bahwa norma adalah suatu bentuk peraturan ataupun petunjuk hidup yang memberikan acuan terhadap apa yang baik untuk dilakukan dan apa yang harus dihindari, dengan tujuan mewujudkan ketertiban dalam masyarakat.

Fungsi Norma

Menurut Selo Soemardjan, norma memiliki dua fungsi, yaitu:

  • Sebagai pedoman hidup yang berlaku bagi semua warga masyarakat.
  • Mengikat setiap anggota masyarakat sehingga berakibat memberikan sanksi kepada anggota masyarakat yang melanggarnya.

Di dalam masyarakat, setiap norma memiliki kekuatan mengikat yang berbeda. Ada norma yang berdaya ikat lemah, sedang, dan kuat. Umumnya anggota masyarakat tidak akan berani melanggar norma yang berdaya ikat kuat. 

Macam-Macam Norma

Cara (Usage)

Cara merujuk pada suatu bentuk perbuatan. Norma berdasarkan cara ini memiliki daya ikat yang sangat lemah bila dibandingkan dengan kebiasaan. Cara biasanya lebih menonjol dalam hubungan antarindividu. 

Oleh karena itulah, bila ada individu yang melanggar norma ini hanya akan mendapatkan celaan, bukan hukuman yang berat. Contoh dari norma berdasarkan cara ini adalah cara makan yang tidak menimbulkan suara. Bila ada individu yang melanggar, makan dengan menimbulkan bersuara, individu tersebut akan mendapatkan celaan dari orang di sekitarnya. 

Kebiasaan (Folkways)

Kebiasaan memiliki kekuatan mengikat yang lebih kuat dibandingkan cara. Kebiasaan dipelajari dan dilakukan secara terus-terusan dalam bentuk yang sama karena banyak orang yang menyukai perbuatan tersebut. Contoh dari norma berdasarkan kebiasan ini adalah kebiasaan orang yang lebih muda menghormati orang yang lebih tua.

Tata Kelakuan (Mores)

Bila sebuah kebiasaan dilakukan tidak hanya karena perilaku saja, melainkan diterima sebagai norma yang mengatur, kebiasaan tersebut akan menjadi tata kelakuan.

Tata kelakuan menjadi gambaran sifat-sifat yang hidup dalam kelompok manusia dan dilaksanakan sebagai alat pengawas karena dapat memaksakan suatu perbuatan kepada individu. 

Adat Istiadat (Custom)

Adat istiadat merupakan tata kelakuan masyarakat yang terintegrasi secara kuat dengan pola-pola perilaku baik. Adat istiadat memiliki kekuatan mengikat yang kuat, sehingga bila ada individu atau kelompok yang melanggarnya, akan mendapatkan sanksi yang keras. 

Misalnya, dalam hukum adat istiadat di daerah Lampung, melarang perceraian karena pernikahan dianggap sebagai kehidupan abadi bersama dan hanya dapat terputus bila suami atau istri meninggal dunia. Bila ada anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat ini, bukan hanya suami istri yang bercerai tersebut yang namanya tercemar, melainkan juga seluruh keluarga suami istri tersebut.

Norma Kesusilaaan

Norma kesusilaan merupakan norma yang berasal dari bisikan hati nurani. Norma kesusilaan ini biasanya sering muncul saat seseorang hendak melakukan sesuatu. Bisikan hati nurani manusia ini, baik disadari atau tanpa disadari, acapkali menjadi panduan seseorang dalam bersikap atau bertingkah laku. Contoh norma kesusilaan adalah senantiasa berbuat baik kepada orang lain, harus bersikap dan berkata jujur, dan lain sebagainya. 

Norma Agama

Agama memiliki peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia, yang ajarannya dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan yang benar dan lurus, baik dalam hubungan seseorang terhadap Tuhan, terhadap sesama manusia dan terhadap makhluk hidup lainnya. 

Norma agama ini dilaksanakan berdasarkan keimanan dan ketakwaan individu. Bila seseorang menjalani perintah atau ajaran agama dengan baik dan benar, akan terjadi tata kehidupan yang harmonis. 

Namun, bila seseorang banyak melakukan pelanggaran norma norma-norma agama, akan terjadi banyak konflik, baik yang sifatnya individual maupun sosial. Contoh norma agama adalah beriman terhadap Tuhan, menjalankan ibadah sesuai ajaran agama yang dianut, menghormati kedua orang tua, dan lain sebagainya.

Norma Hukum

Norma hukum adalah seperangkat aturan yang mengatur kehidupan masyarakat, yang berupa ketentuan, perintah, kewajiban, dan larangan. Norma hukum ini dibuat dengan tujuan terciptanya keamanan, ketertiban, dan keadilan dalam masyarakat. Norma hukum terbagi menjadi dua jenis, yaitu hukum tertulis dan hukum tidak tertulis (konvensi). 

Hukum tertulis merupakan aturan-aturan yang dikodifikasikan dalam bentuk kitab undang-undang, sementara hukum tidak tertulis adalah aturan-aturan yang diyakini keberadaannya secara adat.

Norma hukum merupakan norma yang paling tegas di antara norma-norma yang ada di masyarakat. Bila ada individu yang melanggar norma hukum, maka individu tersebut akan dikenakan sanksi berdasarkan aturan-aturan yang ada dalam hukum tersebut. 

Contoh norma hukum adalah tidak melakukan tindak kejahatan, tidak melakukan pencurian, tidak melanggar lampu lalu lintas, tidak menyebar berita bohong atau hoaks, dan lain sebagainya.

Pengertian Sosialisasi

Dalam ilmu sosiologi, sosialisasi merupakan suatu proses sosial yang membuat seorang individu belajar menghayati dan melaksanakan sistem nilai serta sistem norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat tempatnya tinggal. Proses sosialisasi ini biasanya tidak dapat dipisahkan dengan proses enkulturasi. 

Enkulturasi sendiri merupakan proses pembelajaran kebudayaan yang meliputi falsafah, bahasa, adat istiadat, bahasa, dan kebiasaan yang ada dalam lingkungan masyarakat sehingga terbentuk sebuah kepribadian. 

Oleh karena itulah sosialisasi merupakan proses belajar seorang individu sebagai anggota masyarakat dalam menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur kebudayaan, bahasa, adat istiadat, perilaku, kebiasaan, hal-hal lain yang ada dalam kehidupan masyarakatnya, sehingga individu tersebut dapat berpikir, bersikap, dan berperilaku dengan serasi, selaras, dan seimbang.

Proses Sosialisasi

Seorang individu menjalani proses sosialisasi di masyarakat dengan beberapa cara, yaitu:

Pelaziman (Conditioning)

Pelaziman merupakan salah satu proses sosialisasi yang mempengaruhi sebagian besar perilaku seorang anak. Seorang anak biasanya mempertahankan suatu perilaku bila perilaku tersebut membuatnya mendapatkan imbalan.

Sebaliknya, bila perilaku tersebut membuatnya mendapatkan hukuman, perilaku tersebut akan ia tinggalkan. Oleh karena itulah dalam proses sosialisasi, pelaziman ini sangat dipengaruhi oleh didikan orang tua. Dalam pelaziman, hampir sebagian besar perilaku diperoleh anak secara positif.

Imitasi

Proses imitasi terjadi dengan agak majemuk, yaitu dengan cara anak melihat model yang akan ia tiru perbuatannya.

Identifikasi

Identifikasi merupakan proses peniruan yang dilakukan oleh anak secara mendalam. Seorang anak bukan hanya meniru aspek luarnya saja, melainkan ingin menjadi identik atau sama dengan tokoh idealnya. Dalam perkembangan proses diri seseorang, identifikasi memiliki peranan penting karena dengan melakukan identifikasi, seseorang “mengkategorikan” dirinya ke dalam kategori tertentu.

Internalisasi

Dalam proses sosialisasi internalisasi, seorang anak mengikuti sebuah aturan bukan karena akan mendapatkan hadiah atau karena takut dihukum, dan bukan karena meniru tokoh idealnya. Seorang anak mengikuti aturan yang ada karena merasa yakin kalau norma tersebut telah menjadi bagian dari dirinya dan menyadari perilaku tersebut diharapkan oleh masyarakat.

Kepribadian

Kepribadian merupakan keseluruhan karakteristik perilaku yang khas pada diri individu. Setiap individu memiliki kepribadian yang unik sehingga individu tersebut dapat dibedakan dengan individu lainnya. Setiap individu juga tidak mungkin memiliki banyak kepribadian, kecuali bila individu tersebut memiliki gangguan mental.

Pengertian Kepribadian Menurut Para Ahli

Berikut adalah beberapa pendapat ahli mengenai kepribadian:

  • Koentjaraningrat berpendapat bahwa kepribadian adalah sebagai susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seorang individu yang berada pada setiap individu.
  • Roucek dan Warren berpendapat bahwa kepribadian sebagai organisasi faktor-faktor biologis, psikologi, dan sosiologis yang mendasari perilaku seorang individu. Faktor-faktor biologis ini meliputi keadaan fisik, sistem saraf, watak, seksual, proses pendewasaan individu yang bersangkutan, dan kelainan-kelainan biologis lainnya. Sedangkan faktor-faktor psikologis dapat meliputi faktor unsur temperamen, perasaan, keterampilan, kemampuan belajar, keinginan, dan sebagainya.
  • Yinger berpendapat bahwa kepribadian merupakan keseluruhan perilaku seseorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian sistem. Ungkapan “sistem kecenderungan tertentu” menyatakan bahwa setiap orang memiliki cara berperilaku yang khas dan bertindak sama setiap hari.

Faktor-Faktor Pengembangan Kepribadian

Faktor-faktor pengembangan kepribadian terdiri dari 4 hal, yaitu:

Warisan biologis

Warisan biologis merupakan faktor penentu kepribadian yang bersifat unik karena tidak ada seorang pun, kecuali anak kembar, yang memiliki karakter fisik yang sama. Sebagian masyarakat menganggap kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh penampilan warisan biologisnya.

Misalnya karakteristik kepribadian seperti ambisi, kejujuran, ketekunan, kriminalitas, kecenderungan seksual, atau IQ seorang anak dianggap muncul karena kecenderungan-kecenderungan warisan biologis.

Namun, akhir-akhir ini banyak orang yang tidak lagi mempercayai pandangan mengenai warisan biologis ini karena sudah diketahui bahwa karakteristik kepribadian seseorang dibentuk melalui pengalaman hidup seseorang tersebut.

Lingkungan Fisik

Lingkungan fisik dianggap sebagai penentu pembentukan kepribadian seorang individu yang penting karena berkaitan dengan perilaku manusia dengan iklim dan geografi lingkungan yang ditinggalinya.

Banyak pemikir seperti Aristoteles, Hippocrates, dan Confucius sampai pada ahli geografi modern, seperti Allworth Huntington, yang menekankan perilaku suatu kelompok disebabkan oleh perbedaan iklim, topografi, dan sumber alam. Teori ini sejalan dengan teori etnosentris karena teori geografi memberikan mampu memberikan keterangan etnosentris yang objektif mengenai perilaku seseorang.

Pengalaman Kelompok

Sepanjang hayatnya, seorang individu akan tergabung dan terikat pada kelompok-kelompok tertentu, yang kemudian gagasan atau norma-norma kelompok-kelompok tersebut dijadikan sebagai model gagasan atau norma-norma perilakunya.

Dalam perkembangan kepribadian, keluarga memiliki peranan yang sangat penting karena keluarga merupakan kelompok pertama seorang individu sejak ia lahir dan akan dimilikinya sepanjang hayatnya.

Oleh karena itu, ciri-ciri kepribadian dasar seorang individu terbentuk dalam lingkungan keluarga. Kelompok kedua adalah kelompok sebaya atau persamaan (peer group) yang usia dan statusnya sama dan menjadi penting sebagai kelompok referensi individu tersebut.

Pengalaman Unik

Pengalaman seseorang individu senantiasa bersifat unik dan tidak ada pengalaman orang lain yang dapat menyamainya dengan sempurna. Pengalaman unik setiap individu ini tidak hanya bertambah, tetapi menyatu. Kepribadian tidak dibangun dengan menyusun sebuah peristiwa di atas peristiwa-peristiwa lainnya, sebagaimana menyusun dan membangun tembok batu bata.

Fungsi Sosialisasi dalam Pembentukan Kepribadian

Sosialisasi memiliki dua fungsi dalam pembentukan kepribadian seorang individu, yaitu:

  • Dalam diri individu, sosialisasi merupakan sarana yang dapat digunakan dalam pengenalan, pengakuan, serta penyesuaian diri terhadap nilai-nilai sosial, norma-norma, dan struktur sosial tempatnya berada. Sementara bagi masyarakat, sosialisasi merupakan sarana dalam menciptakan pelestarian, penyebarluasan, serta pewarisan nilai-nilai sosial dan norma-norma yang mereka miliki.
  • Sosialisasi berfungsi dalam pembentukan kepribadian seorang individu, yang dipengaruhi oleh interaksi dari aktivitas-aktivitas sosial individu tersebut dengan masyarakat, sejak ia lahir hingga akhir hayatnya. Sosialisasi berperan dalam proses pewarisan nilai-nilai sosial dan norma-norma suatu masyarakat ke generasi selanjutnya.

Hubungan Internalisasi dan Pembentukan Kepribadian Individu

Bagaimana, sampai di sini sudah paham kan tentang pengertian internalisasi nilia, norma dan pembentukan kepribadian. Selanjutnya, apa sih hubungan antara internalisasi nilai dengan pembentukan kepribadian?

Internalisasi berperan dalam proses penyerapan nilai-nilai sosial dan norma-norma oleh masyarakat melalui proses belajar beradaptasi terhadap keadaan, kondisi, dan lingkungan.

Sementara kepribadian adalah beberapa karakter yang dimiliki seorang individu, yang diperlihatkannya secara lahir, konsisten, dan konsekuen dalam perilakunya, sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dengan individu-individu lainnya.

Gejala-gejala kepribadian seorang individu ini tumbuh secara perlahan dalam masyarakat karena adanya proses sosialisasi dan internalisasi. Selain itu kepribadian seorang individu juga dipengaruhi oleh banyak hal, seperti yang sudah di bahas di atas.

Nah, itulah pembahasan Materi Sosiologi Kelas 10 mengenai internalisasi nilai, norma, dan pembentukan kepribadian. Semoga artikel ini menambah pemahaman kamu, ya. Buat kamu yang ingin mendapatkan akses materi belajar menarik lainnya, kamu bisa mengunduh aplikasi bimbingan belajar online Pahamify di sini.

Khusus buat kamu yang ingin mempersiapkan diri menghadapi UTBK, kamu bisa mengikuti try out online gratis dari Pahamify di tautan ini. Jangan lupa juga untuk melihat informasi promo menarik lainnya di https://pahamify.com/promo/, ya.

Penulis: Salman Hakim Darwadi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

download-hero-image

Mobile Version

Desktop Beta Version

Kamu belum yakin? Tanya langsung disini!
Mipi Ulang Tahun! Kirim Ucapanmu disini!

© 2021 Pahamify. All rights reserved.

Script for Mobile Horizontal Scroll