Temen-temen, kalian suka makan keju, enggak? Uuhh… enak banget, ya, keju itu! Apalagi hari-hari ini banyak banget makanan yang dikasih keju mozzarella meleleh di atasnya, kayak ayam geprek, mie goreng, steak, dan banyak lagi. Nikmat banget kan makannya? Tapi kamu tau gak sih kalau kecap, roti, tempe, mentega, tape, bahkan keju yang sering kita makan itu merupakan hasil dari proses bioteknologi? Kalau belum, yuk, kita pelajari apa itu bioteknologi bersama-sama, biar kita juga bisa tahu apa aja sih yang dihasilkan oleh bioteknologi ini.

Bioteknologi berasal dari tiga kata dalam bahasa Latin, yaitu bios (hidup), tekno (penerapan), dan logos (ilmu). Nah, dari situ kita bisa memahami kalau bioteknologi adalah ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip penerapan biologi. Bioteknologi ini merupakan cabang dari biologi yang khusus mempelajari cara memanfaatkan makhluk hidup dalam proses produksi untuk menghasilkan makhluk hidup, barang, dan jasa.

Eits, jangan kaget dulu. Iya, kamu gak salah baca. Bioteknologi emang nyiptain makhluk hidup dari makhluk hidup yang ada. Hal ini dilakukan supaya kita bisa menghasilkan makhluk hidup seperti hewan ternak dan tumbuhan yang bersifat unggul melalui rekayasa genetika. Mangkanya dari bioteknologi, misalnya, kita bisa makan semangka tanpa biji atau tomat ungu. Buah hasil rekayasa genetika ini juga biasanya memiliki daya tahan yang lebih bagus dibandingkan tumbuhan biasa.

Tapi bioteknologi gak selalu menggunakan teknologi canggih, loh, temen-temen. Dari jaman dulu kala, prinsip bioteknologi ini udah digunakan oleh manusia. Dengan prinsip bioteknologi, kita bisa menikmati tempe atau yoghurt. Tempe yang kita makan sehari-hari itu dibuat dari hasil fermentasi kacang kedelai dengan bantuan jamur Rhizopus oligosporus. Bahan pembuatan tempe ini biasanya disebut dengan ragi tempe. Nah, kalau pada yoghurt, susu difermentasikan dengan bakteri yang bernama Lactobacillus bulgaricus. Selain dalam hal pangan, bioteknologi juga berguna dalam bidang jasa. Misalnya dalam proses pengolahan limbah, pemisahan logam, dan pemberantasan hama.

Tapi, gimana, ya, caranya membedakan produk hasil bioteknologi dan yang bukan? Kita bisa membedakannya melalui ciri-ciri khas produk bioteknologi. Apa aja itu? Yuk, kita pelajari lebih dalam.

Ciri-Ciri Produk Bioteknologi

Untuk bisa disebut sebagai produk bioteknologi, tentu saja produk tersebut harus memiliki ciri tertentu. Pertama, produk tersebut harus menggunakan makhluk hidup dalam proses pembuatannya. makhluk hidup yang dimaksud di sini bisa bermacam-macam, seperti bakteri, jamur, hewan, dan tumbuhan. Biasanya yang paling sering digunakan dalam bioteknologi itu mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Alasannya karena selain mudah didapatkan, proses pertumbuhan mikroorganisme ini cepat dan dapat dimodifikasi. Modifikasi di sini dilakukan melalui rekayasa genetika sifat mikroorganisme untuk diubah menjadi sifat yang bagus-bagus saja. Sifat-sifat bagus inilah yang kemudian diturunkan ke keturunan selanjutnya alias anaknya. Dengan demikian kita bisa menghasilkan produk atau jasa yang terbaik di antara yang terbaik.

Jamur
Bakteri

Ciri kedua yang mesti dimiliki produk bioteknologi adalah dalam proses pembuatan produk tersebut harus menggunakan ilmu yang mendukung proses bioteknologi. Ilmu-ilmu tersebut adalah ilmu mikrobiologi, biokimia, biologi molekuler, genetika, enzimologi, ilmu pangan, rekayasa teknologi pangan, dan rekayasa biokimia.

Jenis Bioteknologi

Nah, kamu udah paham kan cara ngebedain produk bioteknologi dengan yang bukan? Sekarang kita pelajari jenis-jenis bioteknologi, ya. Jadi, seperti yang udah disinggung di atas, produk bioteknologi ini sebenernya udah ada dari jaman dulu. Sejak enam ribu tahun sebelum Masehi, masyarakat Babilonia udah biasa bikin minuman fermentasi anggur dengan menggunakan ragi. Pada tahun empat ribu sebelum Masehi, masyarakat Mesir juga udah menggunakan ragi untuk membuat roti. Sementara di Jepang, mereka bikin natto (makanan tradisional Jepang, yang dibuat dari fermentasi kacang kedelai) dan sake (minuman beralkohol tradisional Jepang yang juga biasa digunakan dalam masakan mereka). Kalau di Cina, mereka bikin sufu (semacam keju yang lunak) dan kecap. Kalau di Indonesia, kamu pasti tau dong apa aja produk bioteknologi ini? Yup! Kamu bener! Nenek moyang kita terbiasa menggunakan ragi untuk bikin tempe, oncom, tape, brem, kecap dan lain-lain.

Di jaman dulu, bioteknologi dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Hanya dibuat di industri rumah tangga dengan jumlah yang sedikit, sesuai dengan kebutuhan harian mereka. Lalu seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu bioteknologi pun semakin berkembang. Para peneliti mulai mengembangkan bioteknologi dengan prinsip-prinsip ilmiah melalui penelitian. Hal ini dilakukan agar produk yang dihasilkan bisa lebih banyak dan mutakhir.

Dari dua jenis proses bioteknologi di atas, bioteknologi pun dibagi menjadi dua jenis, yaitu bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern. Perbedaan di antara kedua jenis bioteknologi itu apa aja, sih? Lanjut baca artikel ini, ya.

Bioteknologi Konvensional

Bioteknologi konvensional merupakan bioteknologi yang ngegunain mikroorganisme sebagai alat untuk ngehasilin produk dan jasa. Biasanya bioteknologi konvensional menggunakan bakteri dan jamur untuk menghasilkan enzim-enzim tertentu untuk melakukan metabolisme yang menghasilkan produk tertentu, temen-temen. Sesuai namanya, bioteknologi ini sudah ada jauh sebelum teknologi belum berkembang dengan pesat dan penggunaannya masih terbatas pada peran makhluk hidup atau organisme melalui proses yang masih sangat sederhana dan dilakukan dalam skala kecil. 

Mulanya, sih, bioteknologi ini hanya diterapkan pada bidang pertanian, tapi seiring berjalannya waktu, berkembang juga ke banyak bidang lainnya. Bioteknologi konvensional digunakan untuk menghasilkan produk-produk yang mengandalkan peran organisme sebagai pengubah bentuk dan kandungan gizi. Nah, kamu pasti udah tau kan proses apa itu? Iya, kamu benar. Proses ini dinamakan fermentasi atau proses pemecahan glukosa yang ada pada bahan makanan dengan bantuan mikroba. Fermentasi ini kemudian menghasilkan asam asetat, alkohol, gula atau bahan makanan sehari-hari seperti tempe, tape, kecap, brem, dan oncom.

Karena bioteknologi konvensional ini masih dilakukan dengan sederhana dan tidak menggunakan mesin yang canggih, bioteknologi ini memiliki dua ciri khas. Pertama, proses pembuatan produknya menggunakan makhluk hidup secara langsung. Misalnya dalam proses pembuatan tempe yang menggunakan jamur Rhizopus oligosporus, jamurnya digunakan langsung untuk memfermentasi kacang kedelai menjadi tempe. Kedua, pengerjaan atau proses pembuatannya mudah, hanya menggunakan alat dan perlengkapan yang sederhana.

Bioteknologi Modern

Nah, kalau bioteknologi modern beda lagi temen-temen. Bioteknologi ini mulai berkembang sejak diketemukannya struktur dan fungsi DNA. Mangkanya bioteknologi jenis ini menggunakan mikroba atau makhluk hidup hanya sebagai agen. Jadi mikrobanya gak dipake secara langsung seperti dalam bioteknologi konvensional. Oleh karena itu, bioteknologi modern membutuhkan alat dan perlengkapan yang modern dan canggih dalam proses pembuatannya.

Salah satu contoh bioteknologi modern ini adalah tumbuhan transgenik. Transgenik terdiri dari kata transfer dan genik, mangkanya arti dari transgenik adalah memiliki materi genetik (DNA) dari organisme lain. Jadi, tanaman transgenik dibuat dari hasil rekayasa genetika dengan menggabungkan gen tertentu dengan DNA-nya. Hal ini dilakukan biasanya agar suatu tumbuhan pangan memiliki sifat daya tahan yang tinggi terhadap hama dibandingkan tumbuhan yang tidak mendapatkan proses transgenik ini.

Untuk membuat tanaman transgenik ini ada beberapa tahapan, temen-temen. Pertama-tama, kita perlu mencari gen pada makhluk hidup lain yang memiliki sifat yang kita inginkan, yaitu sifat daya tahan yang bagus terhadap hama yang menyerang tanaman tertentu. Biasanya gen ini diambil dari makhluk hidup lain, seperti tanaman lain, hewan, bakteri atau jamur. Nah, kalau gen yang diinginkan udah ditemukan, baru deh gennya diekstrak alias diambil dari makhluk hidup tersebut. Hasil ekstrak gen ini kemudian diperbanyak dengan istilah kloning gen. Pada tahapan kloning gen ini, DNA asing dimasukkan ke dalam vektor kloning gen atau agen pembawa DNA. Kemudian vektor kloning ini dimasukkan ke dalam bakteri supaya DNA dapat diperbanyak seiring dengan perkembangbiakan bakteri tadi. Bila gen yang diinginkan sudah diperbanyak, maka akan gen asing tersebut akan ditransfer ke dalam sel tumbuhan. Bagian sel tumbuhan yang digunakan ini biasanya adalah bagian daun. 

Nah, hasil dari proses tersebut baru deh muncul varietas tumbuhan baru yang memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan tanaman biasa atau alami yang ada di alam. Tanaman transgenik ini biasanya lebih tahan serangan hama, tahan cuaca, memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi, dan lain sebagainya. Dengan diciptakannya tanaman transgenik ini, kita jadi bisa mengatasi peningkatan kebutuhan pangan penduduk dunia yang semakin banyak serta dapat mengatasi masalah kekurangan gizi yang terjadi di dunia. 

Gimana temen-temen? Sekarang kamu udah paham kan apa itu bioteknologi? Kalau kamu penasaran dan pengen belajar lebih dalam mengenai bioteknologi ini, buruan deh kamu unduh aplikasi Pahamify. Di sana kamu gak cuma bisa belajar bioteknologi aja, tapi juga materi pelajaran lain yang kamu suka atau materi pelajaran lain yang masih perlu kamu pelajari. Jangan khawatir, di aplikasi Pahamify, proses belajarnya mengasyikkan, kok! Tunggu apalagi? Ayo unduh dan langganan Pahamify!

Penulis: Salman Hakim Darwadi


Komentar

One Comment on “Bioteknologi – Konsep dan Jenisnya

Anonymous
May 18, 2020 at 3:33 am

Terimakasih informasinya kaa

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tonton video belajar yang asyik, latihan soal, dan dapatkan motivasi dan tips belajar langsung dari smartphone kamu dengan aplikasi belajar online Pahamify.

© 2020 Pahamify. All rights reserved.

Home

Pembelian

Blog