Ikuti Try Out Online UTBK Pada 12 - 15 Oktober 2020

Pandemi Covid-19 yang kini sedang terjadi secara global membuat segala kegiatan harus dilakukan di rumah saja. Baik itu kegiatan belajar mengajar, pekerjaan, bahkan nongkrong bersama teman yang biasanya dilakukan tiap pulang sekolah ataupun saat malam menuju hari libur kini dilakukan dari rumah.

Keadaan seperti ini mungkin membuat beberapa dari kamu melakukan hal-hal yang tidak biasanya dilakukan. Beberapa ada yang jadi sering main tik-tok, juggling gulungan tisu, membuat dalgona coffee, atau sekedar berdiam diri menatap langit-langit kamar seraya memikirkan fenomena yang ada di muka bumi.

Bagi kamu yang melakukan kegiatan yang terakhir, pernahkah terpikirkan dalam benak kalian mengenai kehidupan ini? Dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang mendasar seperti “kok bisa ya terjadi kehidupan?”, “kok ada hewan, tumbuhan dan manusia?” atau “kenapa bisa tiba-tiba ada semut di sebuah makanan yang terbuka?”

Hingga kini, pertanyaan-pertanyaan mengenai asal-usul kehidupan hanya bisa dipecahkan melalui teori yang dicetuskan oleh para ilmuwan. Teori ini dicetuskan berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita.  

Sepanjang sejarah misteri ini berusaha dipecahkan oleh para ilmuwan hingga akhirnya menghasilkan beberapa teori.

Aristoteles, seorang filsuf asal Yunani Kuno mengajukan sebuah teori mengenai asal-usul kehidupan yang disebut abiogenesis. Teori ini dicetuskan pada tahun 384-322 SM. Aristoteles yakin bahwa makhluk hidup itu ada karena benda mati dan semuanya muncul secara spontan. Sehingga muncul sebutan Generatio Spontanea. Misal, cacing berasal dari tanah, ikan berasal dari air, dan belatung yang muncul dari daging busuk.

Teori ini mendapat dukungan dari seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris John Needham. Teori tersebut dibuktikan melalui percobaan yang dilakukan Needham. Ia merebus sepotong daging beberapa menit. Air rebusan tersebut dimasukan ke dalam botol yang ditutup oleh gabus. 

Beberapa hari kemudian, air rebusan daging yang tadinya jernih menjadi keruh. Warna yang keruh tersebut disebabkan oleh adanya mikroorganisme pada air rebusan tersebut. Sehingga ia menyimpulkan makhluk hidup, dalam hal ini mikroorganisme, berasal dari benda yang mati..

Namun, tidak semua merasa puas dengan teori dari Aristoteles ini. Pada abad ke-17, tepatnya tahun 1668, teori ini coba dipatahkan oleh seorang ilmuwan asal Italia, Francesco Redi. Ia melakukan dua percobaan dengan potongan daging yang dimasukan ke dalam toples.

Daging pertama ditutup rapat, sedangkan yang satunya lagi dibiarkan terbuka. Beberapa hari kemudian, muncul belatung pada daging yang berada di toples terbuka. Namun, daging yang ada di toples tertutup bersih dan bebas dari belatung.

Dari percobaan tersebut, Redi membuktikan bahwa belatung tidak bisa muncul dengan sendirinya dari daging yang busuk. Ia yakin bahwa belatung bisa muncul karena ada telur lalat yang masuk ke dalam daging yang terbuka. Jadi, belatung itu asalnya dari telur lalat yang menetas dan bukan muncul begitu saja dari daging.

Percobaan yang dilakukan Redi menuai kritikan dari penganut ajaran abiogenesis. Mereka berpendapat bahwa belatung tidak muncul karena toples dalam keadaan tertutup sehingga oksigen tidak bisa masuk.

Namun upaya Redi tidak berhenti begitu saja setelah menuai kritikan. Ia kembali membuat percobaan mengenai asal-usul kehidupan. Kali ini daging tetap ditutup menggunakan kain kasa yang memiliki pori-pori besar sehingga udara tetap bisa masuk, namun lalat akan kesulitan untuk masuk.

Hasil dari percobaan ini menunjukan munculnya larva pada daging namun dalam jumlah yang jauh lebih sedikit dari percobaan pertama. Selain itu, terdapat banyak larva yang muncul pada kain kasa yang digunakan untuk menutup toples.

Dari hasil tersebut, Redi semakin yakin bahwa larva tidak muncul dari daging, melainkan dari lalat yang hinggap di kain kasa dan beberapa telurnya jatuh masuk ke dalam toples.

Kemudian teori yang dihasilkan oleh Francesco Redi diperkuat dengan percobaan yang dilakukan oleh seorang ahli fisiologi asal Italia, Lazzaro Spallanzani. Ia melakukan percobaan seperti yang dilakukan Needham, yaitu menggunakan air rebusan daging atau air kaldu.

Pada percobaan yang dilakukan Spallanzani, terdapat dua labu berisi air kaldu. Labu pertama disumbat menggunakan gabus dan yang satunya lagi dibiarkan terbuka. Hasilnya adalah kaldu yang tidak ditutup menjadi keruh, bau dan mengandung banyak mikroorganisme. 

Berbeda dengan kaldu yang tertutup yang tidak menghasilkan perubahan apapun. Apabila labu ini dibuka, lama-kelamaan keadaannya akan sama dengan kaldu yang lainnya. Spallanzani akhirnya menyimpulkan bahwa mikroorganisme tersebut berada di udara dan masuk ke dalam air kaldu ketika labunya dibuka.

Tetap saja, percobaan yang dilakukan oleh Spallanzani menuai kritik dari penganut ajaran abiogenesis. Pro kontra ini terus berlanjut hingga akhirnya ada seorang ilmuwan yang berhasil menumbangkan teori abiogenesis.

Louis Pasteur, seorang ahli biokimia Prancis, mencoba menyempurnakan percobaan Spallanzani. Pada tahun 1864, Pasteur melakukan percobaan yang juga menggunakan air kaldu. Air kaldu dimasukan ke tabung dengan bentuk leher angsa untuk menjaga kontak dengan udara luar. Udara dari luar tetap bisa masuk ke dalam labu, tapi mikroba yang datang bersama udara akan menempel di dasar leher angsa.

Hasilnya, beberapa hari kemudian, air kaldu tetap jernih. Kemudian Pasteur memecahkan leher angsanya dan air kaldu di dalam labu tersebut menjadi busuk.

Percobaan ini membuat Pasteur menyimpulkan bahwa mikroorganisme bukan berasal dari benda mati atau air kaldunya. Melainkan berasal dari mikroorganisme yang ada di udara yang masuk ke dalam air kaldu bersamaan dengan debu.

Teori abiogenesis yang sudah bertahan selama berabad-abad pun tumbang dan muncul sebuah teori pengganti, yaitu biogenesis dengan 3 konsep dasar “omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo, omne vivum ex vivo”. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia akan berbunyi “setiap makhluk hidup berasal dari telur, setiap telur berasal dari makhluk hidup, setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup juga”

Masih ada teori lain mengenai asal-usul kehidupan yang mencoba membuktikan darimana asal usul kehidupan. Semua dapat kamu pelajari lebih lengkap lagi dengan aplikasi belajar Pahamify. Di situ kamu bisa belajar lebih jauh lagi seperti teori yang mencoba membuktikan pembentukan makhluk hidup pertama yang ada di kehidupan. Mulai dari teori kreasi khas milik Carolus Linnaeus, kosmozoan milik Herman Richter, hingga teori evolusi biokimia milik Harold Urey.

Kementerian pendidikan memutuskan bahwa di sebagian besar daerah, kegiatan belajar-mengajar di tahun ajaran baru tetap akan dilakukan di rumah hingga akhir tahun ini. Pasti gak enak banget rasanya belum bisa ketemu temen-temen dan ngerasain suasana belajar di sekolah.

Nah, biar kamu lebih semangat, Pahamify mau memberikan paket belajar dengan harga spesial. Dengan langganan paket belajar Pahamify ini, kamu bakal dapet akses fitur seperti video pembelajaran, rangkuman, flash card, quiz, kisi-kisi materi ulangan, video tips belajar hingga info kampus.

#TeruskanSemangatBelajarmu di rumah aja bersama Pahamify. Dan download aplikasinya sekarang!

Penulis: Afif Rizki


Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tonton video belajar yang asyik, latihan soal, dan dapatkan motivasi dan tips belajar langsung dari smartphone kamu dengan aplikasi belajar online Pahamify.

© 2020 Pahamify. All rights reserved.

Home

Pembelian

Blog