Pahamifren, di antara kamu pasti pernah baca berita tentang penyalahgunaan narkotika kan? Sering juga kita mendengar penangkapan artis dan anak-anak muda yang terjerat kasus narkoba. Miris banget ya. Nah, kali ini Mipi akan mengajak kamu mengenal lebih jauh tentang zat adiktif dan bahaya senyawa psikotropika. Baca artikel ini sampai selesai ya, Pahamifren.

Jenis-Jenis Zat Adiktif

Sebelum lebih jauh, kamu juga perlu mengetahui tentang klasifikasi psikotropika yang beredar di dunia. Apa saja jenis-jenis zat adiktif yang menjadi narkotika? Berikut penjelasannya:

Bahaya senyawa psikotropika tak hanya berpengaruh pada kesehatan, namun pada kondisi sosial, dan ekonomi korban penyalahgunaannya.

NAPZA

NAPZA merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. Ketiganya memiliki ciri khas masing-masing. Menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2009, narkotika merupakan zat yang bisa membuat kesadaran seseorang menurun dan bisa juga menghilangkan rasa nyeri di tubuh manusia selama beberapa waktu. Contoh yang paling sering kita temukan adalah obat bius. 

Nggak cuma bahaya senyawa psikotropika saja yang harus kamu ketahui, sebenarnya narkotika itu dibagi menjadi 3 jenis. Yaitu narkotika alami, narkotika sintetis, dan narkotika semi-sintetis. Narkotika alami merupakan narkotika yang dihasilkan dari tanaman. Narkotika sintetis adalah narkotika yang sepenuhnya dibuat oleh manusia dengan menggunakan zat kimia.  

Sementara itu, narkotika semi-sintesis adalah narkotika yang berasal dari zat opium. Opium ini asalnya dari tanaman Poppy atau Papaver Somniferum, tapi kemudian diolah lagi menjadi zat-zat narkotika.

Nah, kalau psikotropika beda lagi, Pahamifren. Psikotropika adalah zat atau obat yang bisa mempengaruhi kerja susunan saraf pusat manusia sehingga memengaruhi mental dan perilaku orang yang mengonsumsinya. Biasanya, orang yang mengonsumsi psikotropika ini menjadi hiperaktif dan percaya diri lho, Pahamifren. Contoh psikotropika adalah ekstasi dan sabu-sabu.

Terkadang, orang awam tidak bisa membedakan antara narkotika dan psikotropika. Perbedaan mencoloknya adalah narkotika akan menurunkan bahkan menghilangkan kesadaran penggunanya, sementara psikotropika justru akan membuat penggunanya makin aktif karena pengaruhnya. 

Terakhir, ada zat adiktif. Zat adiktif adalah zat kimia yang dapat mengakibatkan penggunanya mengalami ketagihan atau teradiksi kalau dipakai terus-menerus. Contoh jenis-jenis zat adiktif adalah opium, kokain, ganja, heroin, dan amfetamin.

Sejarah Penggunaan NAPZA

Berdasarkan sejarahnya, NAPZA sebenarnya sudah digunakan sejak jaman dahulu kala. Pada tahun 2000 Sebelum Masehi di Sumeria, tumbuhan Papaver Somniferum yang sekarang menjadi sumber opium, sebenarnya sudah banyak dikenal. 

Dahulu, orang-orang menggunakan serbuk sari dari opium ini untuk menghilangkan rasa sakit. Mereka juga menggunakannya untuk berburu karena serbuk sari tersebut bisa membius hewan-hewan buruan. Kemudian, pada tahun 330 Sebelum Masehi di India, tumbuhan candu digunakan sebagai bahan konsumsi yang dapat memberikan efek relaksasi.

Dari sejarah NAPZA tersebut, jika digunakan secara semestinya, NAPZA ternyata memiliki manfaat positif, ya, Pahamifren. Sebenarnya zat psikotropika ini banyak manfaatnya dalam dunia medis atau kedokteran, tapi kalau penggunaannya disalahgunakan atau melebihi dosis yang dianjurkan, malah akan menghasilkan efek yang sangat berbahaya, terutama bagi kesehatan penggunanya.

Penggolongan NAPZA

Berdasarkan efek yang dihasilkan, NAPZA dapat dibagi ke dalam 3 golongan, yaitu stimulan, depresan, dan halusinogen. Kita bahas satu-persatu, yuk, Pahamifren.

Stimulan

Sesuai dengan namanya, stimulan menyebabkan organ tubuh seperti otak dan jantung terangsang untuk bekerja lebih cepat, sehingga menyebabkan efek ketagihan bagi para penggunanya. Penggunaan stimulan dalam jangka pendek dapat memberikan efek senang dan gembira, tapi kalau digunakan dalam jangka panjang, zat ini dapat menyebabkan kerusakan otak dan sistem organ. Senyawa yang termasuk stimulan adalah:

  • Kokain
Pahami dan  Diskon Akhir Tahun Hingga 80% Untuk Semua Paket Pahamify

Kokain dapat memicu otak untuk melepaskan dopamin, serotonin, norepinephrine, yang memicu metabolisme sel.

  • Amfetamin

Amfetamin mengaktifkan sel di otak dan meningkatkan neurotransmitter. Penggunaan senyawa ini secara terus-menerus dapat mengakibatkan fungsi organ dan menimbulkan gejala depresi.

  • Alkohol

Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan efek lelah, bahkan kematian pada sel otak.

  • Ekstasi

Ekstasi dapat menstimulasi otak untuk melepaskan serotonin yang mengakibatkan aktivitas fisik melebihi batas kemampuan. Penghentian penggunaan ekstasi akan menyebabkan depresi, insomnia, cemas, dan gangguan memori.

  • Kafein

Konsumsi kafein yang terlalu banyak dapat merusak pola tidur, meningkatkan kerja jantung, serta gangguan fungsi hati. Kafein dapat ditemukan pada kopi dan teh.

Jadi, saat tubuh terasa lelah, misalnya seperti saat kamu habis lari maraton, tubuh kamu akan menghasilkan zat adenosin. Saat reseptor di otak kamu bertemu dengan adenosin, otak kamu akan tahu kalau kamu sedang lelah dan akan menyuruh kamu untuk beristirahat. 

Sayangnya, banyak pengguna narkotika yang sebenarnya mengetahui bahaya senyawa psikotropika, yang justru mengindahkannya. Karena sudah kecanduan dengan zat stimulan, mereka cenderung tidak pernah merasa kelelahan.

Lama kelamaan, reseptor pada otak akan mengalami kerusakan. Yang seharusnya menerima sinyal kelelahan, karena efek zat adiktif tadi, tubuh pengguna narkotika akan lebih berenergi saat lelah.

Nah, saat konsumsi zat ini diberhentikan, reseptor akan berikatan dengan banyak adenosin lagi yang akan menyebabkan tingkat kelelahan jadi lebih tinggi. Saat itulah para pengguna NAPZA akan merasa lebih banyak merasa lebih banyak membutuhkan zat stimulan tersebut. Jadinya mereka kecanduan.

Lain lagi ceritanya kalau zat stimulan masuk ke aliran darah. Zat tersebut akan meningkatkan aliran darah, sehingga jantung akan bekerja lebih cepat. Coba bayangkan kalau biasanya kalian lari 1 km setiap hari, lalu dinaikin levelnya jadi 10 km per hari, pasti bakalan lelah banget, kan? Sama saja seperti organ manusia kalau terus ditingkatkan kinerjanya. Organ tersebut akan lelah, rusak, dan bisa-bisa menyebabkan kematian sel organ.

Salah satu contoh yang dekat dengan keseharian kita adalah kopi. Kamu pasti pernah minum kopi, nah, kalau kamu habis minum kopi, badan kamu terasa lebih berenergi dan nggak ngantuk. Itu karena kopi mengandung kafein yang merupakan zat stimulan. 

Tapi jumlah kafein dalam kopi masih bisa ditoleransi kok. Satu gelas kopi mengandung lebih dari 150 mg kafein. Sedangkan, batas normal konsumsi kafein adalah 150 mg/kg berat badan. Artinya, kalau berat badan kamu 50 kg, kamu bakalan overdosis kalau minum lebih dari 50 gelas kopi perhari. Siapa juga yang sanggup minum 50 gelas kopi sehari ya kan?

Depresan

Golongan NAPZA kedua berdasarkan efeknya adalah golongan depresan atau penenang. Zat depresan ini akan menekan atau mengurangi fungsi neuron dalam sistem saraf pusat sehingga menyebabkan aktivitas sel otak pemakainya jadi melambat atau tertidur. Senyawa yang termasuk golongan depresan adalah:

  • Opium

Opium berasal dari tumbuhan Papaver Somniferum. Pada dosis tinggi, opium dapat menyebabkan tekanan jantung, gangguan sistem pernafasan, penurunan fungsi hati, bahkan kematian.

  • Barbiturat

Barbiturat digunakan sebagai obat penenang.

  • Alkohol

Dalam dosis tinggi, alkohol dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, gangguan sistem saraf, dan kerusakan jantung.

  • Ganja

Ganja digunakan sebagai obat pereda rasa sakit, tapi dalam efek berlebihan akan menurunkan tingkat konsentrasi, kecemasan, dan daya tangkap berkurang.

Pahami dan  Saatnya Kejar Nilai dan Ambis PTN 2021, Dapatkan Diskon Akhir Tahun Hingga 80 % Untuk Semua Paket Pahamify

Mari ambil contoh minuman beralkohol. Bila seseorang mengkonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah yang banyak, alkohol dalam tubuh orang tersebut akan mendorong neurotransmitter yang bernama gamma-aminobutyric acid (GABA) untuk terus berikatan dengan reseptornya di dalam otak orang tersebut. 

Saat hal ini terjadi, jalur ion klorida yang bermuatan negatif akan terbuka, sehingga ion ini akan masuk ke sel otak orang tersebut. Hasilnya, aktivitas sel otak orang tersebut akan menurun dan hal ini bisa menekan atau menghilangkan rasa sakit, takut atau gelisah dalam diri orang tersebut.

Semakin banyak alkohol atau zat depresan lain yang dikonsumsi oleh seseorang, seperti obat penenang atau obat tidur, maka GABA akan semakin lama berikatan dengan reseptornya. Ini berarti akan semakin banyak juga ion klorida negatif yang masuk ke sel otak. Apabila pemakaiannya dihentikan, otak akan kehilangan keseimbangan dan menyebabkan tubuh gemetar, muncul rasa takut berlebihan, sehingga pemakainya akan terus-menerus ketagihan untuk menggunakan zat depresan ini. 

Itulah mengapa orang yang sudah kecanduan selalu merasakan efek ketagihan. Namun, penggunaan dalam jangka panjang akan membuat ion klorida negatif yang masuk ke sel otak menjadi racun dan menyebabkan kerusakan pada otak, penurunan kerja jantung, gangguan sistem pernapasan, koma bahkan kematian.

Halusinogen

Golongan NAPZA terakhir adalah halusinogen. Halusinogen dapat memicu otak untuk melepaskan serotonin sehingga menimbulkan efek halusinasi yang mempengaruhi emosi dan pikiran berlebihan seolah semua yang dilihat adalah nyata. Senyawa yang termasuk halusinogen adalah:

  • Ganja

Ganja dapat menimbulkan rasa senang berkepanjangan. Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.

  • Lysergic acid diethylamide (LSD)
  • Psilocybin dan Psilocin

Kedua senyawa ini terdapat pada jamur kotoran sapi atau Panaeolus Cyanescens.

  • Meskalin

Meskalin terdapat pada tanaman kaktus Lophophora Williamsii

Efek Halusinogen

Sesuai namanya, senyawa halusinogen membuat kamu jadi “halu”. Orang yang terkena efek halusinogen, bisa melihat sesuatu yang mustahil, misalnya singa bersayap yang hinggap di pelangi, bunga-bunga beterbangan dan efek halu lainnya.

Untuk lebih detailnya, kita ambil salah satu contoh zat halusinogen, yaitu jamur kotoran sapi atau Panaeolus Cyanescens. Jamur ini disebut jamur kotoran sapi karena jamur ini memang tumbuh dan berkembang di kotoran sapi. Jamur kotoran sapi ini mengandung senyawa psilocybin, ketika dikonsumsi, jamur kotoran sapi ini akan menimbulkan efek halu yang berlebihan.

Sama seperti saat kamu jatuh cinta. Sel otak kamu akan lebih banyak memproduksi serotonin yang merupakan neurotransmitter yang berperan mengatur rasa senang dan emosi kamu. Nah, psilocybin memiliki struktur yang sama dengan serotonin. Psilocybin ini mampu berikatan dengan reseptor serotonin. 

Semakin banyak jumlah psilocybin, maka akan semakin banyak pula reseptor yang berikatan. Akibatnya, akan timbul rasa senang yang berkepanjangan dalam diri orang yang mengkonsumsi jamur kotoran sapi. Efek halusinasi yang ditimbulkan jamur kotoran sapi bisa dari segi penglihatan maupun suara.

Orang yang terkena dampak zat halusinogen akan susah untuk membedakan antara mana yang nyata dan mana yang khayalan. Bukan hanya itu, efek zat halusinogen ternyata berpengaruh pada sistem saraf tepi yang mengakibatkan pandangan kabur, gangguan tidur, atau rasa takut yang berlebihan. Selain jamur kotoran sapi, ternyata ganja dalam jumlah yang sedikit, bunga kecubung, lem, bensin, dan lysergic acid diethylamide (LSD) juga merupakan golongan zat halusinogen.

Pahami dan  Gantikan Ujian Nasional, Ini Penilaian Asesmen Nasional 2021 Yang Harus Kamu Ketahui

Bahaya Senyawa Psikotropika

Nah, sekarang kamu sudah tahu, kan, bahaya NAPZA bagi tubuh seperti apa? Selain berbahaya bagi tubuh, dampak negatif yang ditimbulkan dari penyalahgunaan NAPZA ini juga ada banyak, Pahamifren. Kita bahas satu-persatu, ya!

Dampak Psikologis

Dari segi psikologis, pengguna NAPZA biasanya akan menjadi lebih emosional dan tempramental. Hal ini terjadi karena terganggunya sistem neurotransmitter pada susunan saraf pusat pengguna NAPZA. Zat NAPZA akan mengubah perasaan, mood, atau emosi penggunanya dengan drastis. 

Bahkan jenis narkoba tertentu, terutama alkohol dan sabu-sabu, akan memunculkan perilaku agresif berlebihan dari penggunanya dan seringkali mengakibatkan penggunanya melakukan perilaku atau tindakan kekerasan. Selain itu, bahaya senyawa psikotropika lainnya yaitu dapat menurunkan kemampuan berpikir rasional penggunanya secara drastis. Serem banget, kan, Pahamifren?

Dampak Fisik

Selain dari segi psikologis, NAPZA juga menyebabkan gangguan fisik pada tubuh penggunanya, yang disebut gangguan fisioneurologik. NAPZA dapat mempercepat atau malah memperlambat denyut nadi, jantung, dan paru-paru penggunanya, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. 

Parahnya, kalau seseorang pernah kecanduan NAPZA, tapi tiba-tiba berhenti, gangguan fisioneurologik akan tetap ada. Biasanya, rasa sakit akan menyelimuti sekujur tubuh, seperti sedang terkena flu berat.

Dampak Ekonomi

Sudah tentu NAPZA berdampak pada ekonomi para penggunanya. Harga NAPZA yang kabarnya bisa ratusan sampai jutaan rupiah per gram, membuat para penggunanya kehabisan uang. Sementara tubuh mereka yang sudah teradiksi oleh NAPZA akan bereaksi dan terasa sakit-sakit. 

Tak heran, kalau sudah terkena NAPZA, para penggunanya bisa berusaha mendapatkan uang dengan cara apapun agar dapat membeli NAPZA. Nah, kalau sudah begini pengguna yang sudah kecanduan NAPZA akan menjual barang-barang berharga miliknya, atau bahkan bisa sampai nekat melakukan tindakan kriminal seperti penipuan atau pencurian. 

Dampak Sosial

Terakhir, ada dampak dari segi sosial. Kalau kamu sampai menggunakan NAPZA dan ketahuan, hal ini akan merusak hubungan keluarga dan pertemanan kamu di lingkungan sekitar. Kesehatan masyarakat di sekitar kamu juga akan terpengaruh karena adanya risiko penularan HIV, hepatitis, tuberkulosis karena penggunaan jarum suntik secara bergantian dan berulang. Selain itu, NAPZA juga bisa meningkatkan tindak kriminal seperti yang dibahas sebelumnya.

Jangan sampai terlibat penyalahgunaan narkotika. Bahaya senyawa psikotropika dapat membuatmu terkena ancaman pidana.

Upaya Pemerintah dalam Memberantas Narkoba

Karena banyak pengaruh negatif yang ditimbulkan dari bahaya senyawa psikotropika, pemerintah Indonesia berupaya melakukan pemberantasan NAPZA dengan membentuk Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 yang mengatur penggunaan narkotika di masyarakat.

Jadi, lebih baik mulai terapkan campaign “Say No To Drugs”, “Katakan Tidak pada Narkoba” dan perangi narkoba dari sekarang. Melihat bahaya senyawa psikotopika, kamu tentu harus bisa membentengi diri Pahamifren. Karena, penyalahgunaan NAPZA lebih mudah terjadi di lingkungan pergaulan.

Nah itu dia pembahasan Materi Biologi Kelas 12 tentang Efek dan Bahaya Senyawa Psikotropika. Semoga setelah membaca artikel ini kamu bisa menjaga diri kamu, keluarga kamu, dan sekitar kamu dari bahaya NAPZA, ya, Pahamifren. 

Bagi kamu yang ingin mendapatkan akses materi pelajaran SMA secara online, kamu bisa mengunduh platform belajar online Pahamify. Dijamin, deh, proses belajar kamu bakal lebih seru, menyenangkan, dan nggak membosankan dengan aplikasi Pahamify. 

Penulis: Salman Hakim Darwadi

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tonton video belajar yang asyik, latihan soal, dan dapatkan motivasi dan tips belajar langsung dari smartphone kamu dengan aplikasi belajar online Pahamify.

© 2021 Pahamify. All rights reserved.

Home

Pembelian

Blog