Ikuti Try Out Online UTBK Pada 29 Oktober - 02 November 2020

Apakah kamu merasa belakangan ini cuaca terasa lebih panas dari biasanya? Belakangan ini, rasanya lebih nyaman berada di ruangan ber-AC, apalagi kalau bisa rebahan sambil main twitter. Tenang, kamu nggak sendiri kok. Pasalnya, saat ini bumi kita memang sedang mengalami pemanasan global. Akibatnya, suhu bumi memanas. Saat ini rata-rata suhu bumi berkisar 15 derajat celcius, meningkat cukup signifikan selama 100 tahun terakhir. Sementara suhu rata-rata Indonesia tertinggi saat ini berkisar 35-37 derajat celcius.

Karena suhu bumi yang makin memanas, berbagai fenomena alam pun terjadi. Saat ini, gletser yang ada di kutub utara dan selatan mencair, menyebabkan kenaikan pada permukaan laut. Akibatnya, beberapa pulau dan dataran pesisir pantai tenggelam. Hewan-hewan kutub seperti penguin, beruang kutub, dan walrus pun kesulitan bertahan hidup hingga terancam mengalami kepunahan.

Nah, apa sih, yang menyebabkan berbagai fenomena alam ini terjadi? Memanasnya suhu bumi ini disebut sebagai pemanasan global. Pemanasan global ini terjadi akibat ulah kita, manusia yang menggunakan berbagai teknologi yang memberikan dampak negatif bagi alam.

Seperti yang kita tahu, bumi kita ini usianya sudah cukup tua, yaitu sekitar 4.543 miliar tahun. Sementara itu, manusia baru muncul di bumi ini sekitar 350.000 tahun yang lalu. Karena manusia ternyata sudah menjadi makhluk mageran sejak dahulu kala, manusia berusaha menciptakan berbagai alat dan teknologi yang dapat membantu kehidupan menjadi lebih mudah. Sayangnya, tidak semua teknologi ini berdampak baik bagi alam.

Berbagai teknologi ini menghasilkan zat sisa atau buangan. Misalnya, mesin yang menggunakan bahan bakar akan menghasilkan emisi atau buangan karbon dioksida. Pupuk yang digunakan untuk menyuburkan tanaman akan menghasilkan gas nitrogen oksida. Sementara itu, peternakan akan menghasilkan gas metana dari limbah buangan ternak dan mesin pendingin akan menghasilkan gas buangan CFC.

Awalnya, kita mengira bahwa gas-gas buangan ini tidak berbahaya bagi lingkungan kita. Tapi, kita menumpuk gas-gas ini dalam jumlah yang besar sehingga memberi dampak yang sangat buruk bagi lingkungan kita.

Kamu tentu tahu bahwa bumi kita ini ada lapisan udara yang disebut atmosfer. Atmosfer ini disusun oleh gas nitrogen, oksigen, argon, karbon dioksida, metana, nitrogen oksida, ozon, CFC, serta dalam jumlah yang lebih kecil, uap air. Meskipun dalam jumlah yang kecil, gas-gas ini memiliki pengaruh yang sangat besar karena gas-gas ini menyebabkan efek alamiah yang disebut sebagai efek rumah kaca. Efek rumah kaca pertama kali dikemukakan oleh fisikawan Perancis Joseph Fourier pada tahun 1824.

Lalu, seperti apa proses terjadinya efek rumah kaca? Efek rumah kaca dimulai dari cahaya matahari. Cahaya yang dipancarkan oleh matahari tidak cuma dalam frekuensi cahaya yang tampak, namun juga dalam frekuensi inframerah dan ultraviolet. Namun, gelombang inframerah tidak dapat menembus uap air, gas karbon dioksida, metana, nitrogen oksida, ozon, dan CFC, sehingga sebagian besar gelombang inframerah ini dipantulkan kembali ke angkasa. Sedangkan gelombang ultraviolet yang berbahaya bagi manusia diserap oleh ozon sehingga sebagian tidak sampai ke permukaan bumi.

Nah, cahaya yang lolos dari atmosfer, diserap oleh permukaan bumi, baik tanah, maupun laut, dan menyebabkan kenaikan suhu pada permukaan bumi. Energi cahaya tersebut diradiasikan kembali dalam bentuk gelombang inframerah. Namun, seperti sebelumnya gelombang inframerah sulit menembus gas-gas yang ada di atmosfer, sehingga dipantulkan kembali ke permukaan bumi. Hal inilah yang menyebabkan suhu permukaan bumi meningkat.

Rangkaian peristiwa ini disebut efek rumah kaca. Sementara gas-gas yang sulit ditembus oleh gelombang inframerah seperti uap air, karbon dioksida, metana, nitrogen oksida, ozon, dan CFC disebut gas rumah kaca.

Secara alamiah, efek rumah kaca menghangatkan suhu permukaan bumi agar kita dapat hidup dengan hangat dan nyaman. Tanpa efek rumah kaca, suhu permukaan bumi akan sangat dingin. Namun, kalau konsentrasi gas-gas yang tidak bisa ditembus gelombang inframerah ini terus meningkat, maka akan lebih banyak gelombang inframerah yang tidak terperangkap. Akibatnya, suhu permukaan bumi terus meningkat.

Kenaikan suhu permukaan bumi ini adalah fenomena yang sangat nyata. Sejak tahun 1970, suhu permukaan bumi selalu meningkat. Dalam satu abad terakhir, satu dekade paling panas terjadi di dekade ini. Terlebih, trennya tidak menunjukkan penurunan suhu, namun justru semakin panas. Fenomena ini biasa kita sebut sebagai pemanasan global.

Dampak dari kenaikan suhu ini menyebabkan mencairnya es di daerah Greenland dan Antartika. Total kedua daerah ini sudah kehilangan sekitar 400 miliar ton es sejak tahun 1993. Akibatnya, permukaan air laut menjadi naik sekitar 3,2 milimeter setiap tahunnya. Apabila hal ini terus dibiarkan, pulau-pulau kecil dan pemukiman pesisir pantai akan tenggelam.

Selain itu, pemanasan global dapat menyebabkan kekeringan, perubahan iklim, dan cuaca-cuaca ekstrim seperti badai dan gelombang panas. Pemanasan global juga memberikan dampak sosial seperti migrasi penduduk akibat berkurangnya lahan pemukiman, kelangkaan pangan akibat kekeringan, hingga konflik perebutan sumber daya alam yang semakin sulit didapat.

Namun tenang saja, kita bukannya nggak ada harapan. Langkah-langkah pengurangan pemanasan global sudah dilakukan oleh pemimpin dunia. Tahun 2016,  195 negara di dunia menandatangani Persetujuan Paris dan berjanji untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Hal ini penting dilakukan oleh negara-negara seperti Tiongkok, yang menyumbang sekitar 25% emisi gas rumah kaca dunia, Amerika Serikat yang menyumbang sekitar 15%, dan negara-negara Uni Eropa yang secara keseluruhan menyumbang 10%.

Kita pun dapat memperlambat laju pemanasan global dengan mengurangi emisi gas-gas rumah kaca. Caranya, dengan menghemat penggunaan listrik di rumah, menggunakan angkutan umum alih-alih kendaraan pribadi, mengurangi pemakaian bahan bakar fosil seperti bensin dan batu bara, tidak membuang sampah atau limbah sebelum dikelola terlebih dahulu, serta menanam banyak pohon untuk menyerap karbon dioksida.

Pahamify telah mengadakan program Kelas Online sejak 16 Maret 2020 dimana kamu yang sekarang SMA bisa belajar di rumah masing-masing bersama melalui fasilitas live streaming di aplikasi Pahamify setiap hari pukul 14.00-16.00. Kelas Online ini berfokus pada pemahaman konsep untuk kelas X dan XI, serta pembahasan soal-soal Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) bersama Rock Star Teacher Pahamify.

Tidak hanya itu, mulai tanggal 31 Maret 2020, Kita akan membuka akses gratis hingga 31 Mei 2020 untuk semua pengguna aplikasi Pahamify. Dengan ini, kamu bisa mengakses beragam konten belajar seperti ribuan video animasi, flash cards, ribuan latihan soal, dan rangkuman materi SMA dari kelas X hingga XII. Selain itu, kamu yang udah kelas XII juga bisa mengakses informasi seputar kuliah, baik itu informasi mengenai universitas, hingga tips untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk universitas.

Jadi, gak usah berlama-lama lagi. Buruan unduh aplikasinya!

Unduh di ios

Unduh di android


Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tonton video belajar yang asyik, latihan soal, dan dapatkan motivasi dan tips belajar langsung dari smartphone kamu dengan aplikasi belajar online Pahamify.

© 2020 Pahamify. All rights reserved.

Home

Pembelian

Blog