Ikuti Try Out Online UTBK Pada 12 - 15 Oktober 2020

Belakangan ini media massa dan media sosial di Indonesia sedang ramai dengan pemberitaan mengenai Anji (musisi, mantan vokalis band Drive) dan Hadi Pranoto. Ramainya pemberitaan ini bermula dari pernyataan Hadi Pranoto yang mengaku sudah menemukan cairan antibodi yang dapat menyembuhkan penyakit COVID-19, di salah satu video yang diunggah Anji di kanal Youtube miliknya. Pernyataan Hadi Pranoto dalam video tersebut langsung viral dan mendapat respon dari banyak pihak, terutama dari para dokter dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), karena dianggap menyesatkan dan berbahaya. Bahkan Youtube pun menurunkan video unggahan Anji tersebut dua hari setelah video tersebut tayang di kanal Youtube milik Anji, karena dianggap melanggar kebijakan platform tersebut.

Nah, kira-kira Pahamifren tau gak, nih, kenapa pernyataan Hadi Pranoto tersebut dianggap menyesatkan dan berbahaya oleh IDI dan Youtube, terutama di masa pandemi COVID-19 ini? Ini karena pernyataan Hadi Pranoto dalam video Anji tersebut berkaitan dengan metode medis yang tidak berdasar dan belum terbukti kebenarannya, alias mengandung pseudosains. Pseudosains?

Apa itu pseudosains?

Jadi, pseudosains adalah serangkaian pernyataan, praktik, atau kepercayaan yang diklaim bersifat ilmiah dan faktual, tetapi pada kenyataannya tidak sesuai dengan metode ilmiah. Oleh karena itu pseudosains sering juga disebut sebagai ilmu semu atau palsu. Pseudosains seringkali disampaikan dengan cara-cara yang terdengar atau kelihatan ilmiah, dengan didukung bukti berupa buku, grafik, atau literatur-literatur lainnya, tapi sebenarnya semu bukti tersebut sama sekali tidak mengikuti metode ilmiah, Pahamifren. Semua bukti yang terdengar atau kelihatan ilmiah tersebut sengaja digunakan dalam pseudosains untuk menarik perhatian masyarakat, dengan tujuan agar masyarakat percaya dengan serangkaian pernyataan atau klaim yang digaungkan oleh orang-orang yang mempromosikan pseudosains. 

Makanya kamu mungkin pernah dengar mengenai terapi urin, terapi Su Jok, refleksiologi, aromaterapi, akupuntur, atau berbagai metode penyembuhan alternatif yang menggunakan objek seperti gelang, kalung, cincin, atau batu yang diklaim dapat mengobati berbagai macam penyakit, dari sakit punggung sampai kanker. Atau mungkin kamu juga pernah dengar mengenai Ponari, yang sering disebut sebagai bocah ajaib, yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan batu bertuahnya yang dicemplungkan ke air lalu diminum para pasiennya? 

Nah, semua metode penyembuhan alternatif tersebut termasuk pseudosains karena tidak ada data dan penelitian yang ketat, sesuai dengan metode ilmiah, yang membuktikan kalau semua metode penyembuhan tersebut benar-benar dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti yang diklaim semua metode penyembuhan tersebut.

Tapi, kan, banyak orang yang bertestimoni kalau berbagai metode penyembuhan alternatif di atas memberikan manfaat kesehatan yang nyata? Mungkin itu yang saat ini terlintas di otak kamu. Namun, pada kenyataannya, kondisi seseorang bisa berangsur membaik dari beberapa rasa sakit yang dideritanya juga dipengaruhi pola hidup dan pola makan saat seseorang tersebut menjalani pengobatan. Misalnya, saat menjalani pengobatan, orang tersebut jadi lebih menjaga pola makannya, meminum vitamin, dan jadi lebih rajin olahraga dari sebelumnya, sehingga membantu proses penyembuhan orang tersebut.

Selain itu, dalam sains ada yang disebut dengan efek plasebo atau penggunaan obat palsu yang dimanfaatkan untuk memberi efek sugesti pada pasien. Efek plasebo ini berkaitan dengan kekuatan pikiran atau gagasan dalam otak kita, yang dapat merangsang penyembuhan melalui keyakinan dalam diri kita kalau terapi yang sedang kita jalani benar-benar dapat menyembuhkan penyakit yang kita derita. Bahkan sekalipun kita sadar kalau terapi yang sedang kita jalani bukanlah pengobatan yang menyembuhkan sumber penyakit kita yang sebenarnya, efek plasebo merangsang otak kita untuk berpikir kalau tubuh kita sedang dalam proses penyembuhan.  

Namun, tetap saja para peneliti mengingatkan kalau efek plasebo ini hanya dapat mengurangi rasa nyeri, mengurangi kecemasan, mengurangi insomnia karena stres, tetapi tidak dapat menyelesaikan sumber penyakit yang kita derita. Semua terapi alternatif yang kita jalani hanya membuat kita merasa sehat untuk sementara waktu karena tidak ada bukti nyata semua terapi tersebut mengobati penyakit yang sebenarnya kita derita. Oleh karena itulah pseudosains yang berkaitan dengan kesehatan bisa berakibat fatal karena dapat mencegah orang yang sedang menderita penyakit serius mencari dan menerima penanganan medis yang tepat. 

Nah, sekarang kamu paham kan kenapa IDI dan Youtube sampai menganggap pernyataan Hadi Pranoto menyesatkan dan berbahaya di masa pandemi COVID-19 ini? Ya karena pernyataan Hadi Pranoto tersebut dapat membuat banyak masyarakat Indonesia abai pada protokol kesehatan yang harus dipatuhi selama pandemi berlangsung, sehingga dapat meningkatkan jumlah pasien yang terinfeksi dan meninggal karena virus korona di negara kita. Sementara obat cairan antibodi COVID-19 Hadi Pranoto sendiri belum terbukti benar dan belum terbukti secara klinis dapat mengobati pasien yang terjangkit virus corona.

Terus bagaimana caranya supaya kita bisa menyaring informasi yang benar mengenai metode medis apa pun yang tersebar di internet? Berikut adalah beberapa langkah yang dapat kamu lakukan untuk menyaring informasi metode medis yang benar dan terhindar dari pseudosains. Kamu simak baik-baik, ya, Pahamifren!

Berhati-Hati Dengan Pernyataan yang Bombastis

Pseudosains biasanya menggunakan pernyataan atau klaim yang bombastis, yang belum tentu benar, untuk menarik perhatian masyarakat, agar masyarakat percaya kalau pernyataan tersebut benar. Sementara sains selalu berdasarkan bukti dan penelitian ilmiah. Misalnya dalam kasus Hadi Pranoto, ia mengklaim kalau cairan antibodi COVID-19 temuannya dapat menyembuhkan pasien yang terinfeksi virus korona hanya dalam dua atau tiga hari. Tentu saja klaim ini sangat berlebihan, karena faktanya perawatan pasien yang terinfeksi virus korona membutuhkan waktu dua sampai tiga minggu. Itupun bergantung pada kondisi pasien tersebut kritis atau tidak.

Mencermati Maksud dan Tujuannya

Langkah kedua yang dapat kamu lakukan adalah mencermati maksud dan tujuan dari informasi yang kamu terima. Bila informasi tersebut memang berdasarkan sains, maka informasi tersebut akan berfokus untuk membantu manusia mengembangkan obat yang dapat menyembuhkan suatu penyakit tertentu. Sementara pseudosains biasanya lebih berfokus pada penjualan obat atau objek yang dianggap mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit sekaligus. Misalnya, terapi magnetik dan terapi kristal atau bebatuan biasanya berfokus pada penjualan produk aksesoris seperti cincin, gelang, atau kalung kesehatan yang bernilai jutaan.

Melihat Bagaimana Informasi Tersebut Menghadapi Tantangan

Pseudosains tidak menyukai informasi-informasi yang bertentangan dengan klaim-klaim mereka karena dapat meruntuhkan klaim-klaim mereka tersebut. Sementara sains justru akan suka pada tantangan dan akan menghadapi tantangan tersebut. Bahkan dalam setiap penelitian, sebelum penelitian tersebut dilakukan, para peneliti sudah mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat mematahkan ide penelitiannya, sehingga hasil penelitian mereka nanti hasilnya sudah ketat validitasnya. 

Oleh karena itu, bila ada pseudosains yang didasarkan pada penelitian, maka penelitian tersebut biasanya hanya sedikit, tidak konsisten, dan memiliki bias peneliti. Misalnya, pada terapi magnetis ada salah satu penelitian yang populer, yaitu penelitian Baylor College of Medicine pada tahun 1997. Hasil penelitian tersebut menyebutkan kalau terapi magnetis dapat meredakan nyeri. Namun, hasil penelitian tersebut dapat diperdebatkan karena kedua doter yang terlibat dalam penelitian tersebut, menyebutkan kalau mereka sudah membuktikan khasiat terapi magnet dapat meredakan nyeri lutut mereka sebelum penelitian dimulai. Di kalangan ilmuan, penelitian semacam ini justru akan menimbulkan keraguan atas objektivitas peneliti yang bersangkutan.

Apakah Informasi Tersebut Terbuka Pada Kemungkinan Untuk Salah?

Kamu juga dapat mempertanyakan apakah informasi yang kamu dapat terbuka pada kemungkinan untuk salah atau falsibilitas. Hal ini penting untuk dipertanyakan karena hasil penelitian sains selalu terbuka akan kemungkinan hasil penelitian tersebut salah. Jadi, seandainya di kemudian hari ada penelitian baru mengenai penelitian yang sudah dilakukan dan hasilnya menunjukkan hasil penelitian sebelumnya ada kesalahan, maka penelitian terbaru tersebut akan menggantikan ide penelitian sebelumnya yang terbukti salah. Sementara pseudosains seringkali hanya berdasarkan pada klaim-klaim fantastis, tapi tidak ada bukti penelitian yang mendukung. Kalaupun ada laporan-laporan positif mengenai pseudosains, biasanya laporan-laporan tersebut tidak berdasarkan penelitian ilmiah serta tidak konsisten. 

Mengecek Penelitian yang Terkait dengan Suatu Informasi

Nah, ini langkah yang paling penting untuk kamu lakukan saat kamu menerima informasi yang berkaitan dengan metode medis tertentu. Kamu harus mengecek penelitian yang berkaitan dengan metode medis tersebut, bukan hanya mengeceknya dari berita-berita yang beredar di internet saja. Karena apabila suatu metode medis sudah dijurnalkan, metode tersebut sudah diuji secara akademis.

Nah, sekarang kamu suda paham, kan, apa itu pseudosains dan bagaimana cara menyaring informasi yang benar? Semoga artikel ini membantu kamu terhindar dari pseudosains yang tidak benar, ya, Pahamifren. Jangan lupa untuk #TeruskanSemangatBelajarmu di rumah bersama Pahamify dengan berlangganan paket belajar yang akan membuat belajar kamu semakin asyik dan seru. Tunggu apalagi? Unduh aplikasi Pahamify sekarang juga!

Penulis: Salman Hakim Darwadi


Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tonton video belajar yang asyik, latihan soal, dan dapatkan motivasi dan tips belajar langsung dari smartphone kamu dengan aplikasi belajar online Pahamify.

© 2020 Pahamify. All rights reserved.

Home

Pembelian

Blog